Senin, 15 April 2013

Melawan Liberalisme


Artikel ini datang dari kontributor flipper Aryo diambil dari web utama flippermagz.com sebagai rekap artikel 


 Gerakan Indonesia Tanpa JIL (Jaringan Islam Liberal) atau lebih dikenal dengan singkatan ITJ pada tanggal 18 Februari 2013 genap berumur satu tahun. Dalam rangka milad pertama inilah pada Ahad, 17 Februari 2013, ITJ chapter Yogyakarta (@ITJJogja), bersama dengan chapterSolo (@ITJSolo) dan Semarang (@ITJSemarang) menggelar rangkaian acara dari kajiandengan tema Mempererat Ukhuwah Untuk Melawan Liberalisme, di Masjid Gede Kauman, Yogyakarta dilanjutkan dengan sebuah aksi simpatik di titik nol kilometer dengan mengusung ide “Hargai Pluralitas, Hindari Pluralisme”. Kawan-kawan ITJ dari Temanggung dan Purwokerto juga turut meramaikan acara dengan menghadiri kajian serta aksi di titik nol kilometer.


“Harapannya, sesuai dengan tema bahwa kita perlu menguatkan ukhuwah untuk melawan liberalisasi agama dari JIL, khususnya liberalisasi Agama Islam. Liberalisasi Islam ini membahayakan akidah umat Islam”, ujar Zaky Ramadhan, anggota ITJ chapter Yogyakarta.

Pembicara pada kajian ini adalah Ustadz Jazir ASP, Ketua Takmir Masjid Jogokariyan sekaligus penasihat agama Sultan Hamengku Buwana X. Kajian ini dimulai pada pukul 13.00 WIB dan berakhir menjelang Waktu Ashar. Setelah melaksanakan Shalat Ashar, kawan-kawan ITJ bergerak menuju titik nol kilometer untuk melakukan aksi berupa penyebaran Buletin ITJ, pembentangan spanduk ITJ, serta beberapa orasi dari perwakilan masing-masingchapter.

silahkan klik untuk memperbesar gambar 


Dalam kajian ini, Ustadz Jazir memaparkan sejarah bagaimana pergerakan SEPILIS (Sekularisme, Pluralisme, Liberalisme) di berbagai daerah di Eropa dan Indonesia terutama, dan dari berbagai waktu.Beliau menceritakan bagaimana perjuangan para pejuang Islam pada masa-masa kemerdekaan untuk melawan gerakan liberalisasi agama, khususnya Islam.Dalam kesempatan ini beliau juga menghimbaukepada para hadirin, bahwa era sekarang perang paling berbahaya bukanlah perang “okol” (otot), tetapi otak. Pemikiran akan dilawan dengan pemikiran, sehingga kajian keilmuan menjadi hal yang penting agar kita menjadi lebih paham dan lebih tenang untuk berada dalam perang ini.

Selesai kajian kemudian Shalat Ashar, kawan-kawan ITJ melakukan aksi penyebaran Buletin ITJ di titik nol kilometer Yogyakarta, tepatnya berada di sisi Monumen Serangan Oemoem Satoe Maret. Aksi yang mengusung ide “Hargai Pluralitas, Hindari Pluralisme” ini mendapat perhatian dari banyak warga yang berjalan di trotoar maupun yang sedang berada di kendaraannya. Spanduk-spanduk dibentangkan, dan buletin dibagi kepada pejalan kaki dan para pengendara.


“ITJ merupakan gerakan simpatik yang menghargai pluralitas di Indonesia, di mana keberagaman agama yang ada patut untuk dihargai. Sementara ide pluralisme memaksa semua agama untuk sama. Hal inilah yang kami tentang, sebab masing-masing agama mempunyai pendiriannya dan tidak bisa disamakan. Dan perbedaan inilah yang harus dihargai”, ujar Aspian Noor, Koordinator ITJ Yogyakarta dalam orasinya. “Gerakan kami adalah gerakan intelektual”, lanjutnya.


Sabil Zaidane, Koordinator ITJ Semarang dalam kesempatan orasinya juga mengajak warga Yogyakarta untuk peduli terhadap generasi muda sekarang, agar dapat terjaga dari pemikiran-pemikiran JIL yang membahayakan akidah Islam ini. Koordinator ITJ Purwokerto juga menyampaikan dalam kesempatan orasinya, bahwa Islam Liberal itu bukanlah Islam. Analoginya adalah orang utan tidak sama dengan orang.

Dalam kesempatan yang lain, Aspian berharap gerakan ITJ, yang terdiri dari berbagai kalangan dan usia ini, ke depannya akan semakin kokoh dan menjadi lebih kompak untuk melawan pemikiran-pemikiran dari JIL. Tidak lupa juga bersama-sama untuk menguatkan akidah masyarakat.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar