Rabu, 17 April 2013

Liberalisme Agama & Budaya; Strategi Penjajah Hancurkan Islam, Merusak Bangsa


Pertama, mereka tidak menyuarakan Islam tetapi menyuarakan pemikiran-pemikiran yang diridhai oleh Iblis, Barat dan para Thaghut lainnya. Oleh karena yang paling diuntungkan oleh gerakan liberal adalah orang-orang yang ingkar Al-Qur’an dan Nabi Muhammad Saw. juga aliran-aliran sesat dan ahli maksiat. Tentu saja yang paling dirugikan adalah umat Islam.

Liberalisme Agama & Budaya; Strategi Penjajah Hancurkan Islam, Merusak Bangsa

Bahkan demi membela orang-orang yang amoral sampai salah seorang tokoh liberal berani melecehkan Al-Qur’anul Karim dengan mengatakan: “Kitab suci yang paling porno di dunia adalah Al-Qur’an.”[2]
Kedua, mereka lebih menyukai atribut-atribut fasik dari pada gelar-gelar  keimanan. Karena itu mereka benci kata-kata jihad, sunnah, dakwah, amar ma’ruf nahi munkar, ulama, Al-Qur’an yang mulia dan lain-lainnya dan mereka rela menyebut dirinya  dengan istilah Islam Liberal, Islam Emansipatoris, inklusif pluralis dan lain sebagainya.
Allah Swt. berfirman,
“Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman.”[3]
Ketiga, mereka beriman kepada sebagian kandungan Al-Qur`an dan meragukan kemudian menolak sebagian yang lain. Supaya penolakan mereka terkesan sopan dan ilmiah mereka menciptakan “jalan baru” dalam menafsiri Al-Qur`an. Mereka menyebutnya dengan Tafsir Kontekstual, Tafsir Hermeneutik, Tafsir Kritis dan Tafsir Liberal.
Mereka mengklaim diri mereka sebagai pembaharu Islam padahal merekalah perusak Islam, mereka mengaku mangajak kepada Al-Qur`an padahal merekalah yang mencampakkan Al-Qur`an. Mengapa demikian? Karena mereka bodoh terhadap sunnah. Ibnu Mas’ud berkata:
“Kamu akan mendapati satu kaum yang mengajakmu kepada Kitabullah, padahal mereka telah mencampakkannya di balik punggung mereka. Maka kamu wajib berpegang dengan ilmu, dan jauhilah sikap sikap mengada-ada, memaksa-maksa, dan kamu wajib mengikuti yang salaf.”[4]


 Keempat, mereka menolak paradigma keilmuwan dan syarat-syarat ijtihad yang ada dalam Islam, karena mereka merasa rendah berhadapan dengan budaya Barat. Maka mereka melihat Islam dengan hati dan otak orang Barat. Islam yang murni bagi mereka adalah belenggu, sedang para ulama adalah ‘teroris’ yang mengancan kepentingan mereka.

Kelima, mereka tidak mengikuti jalan yang ditempuh oleh Nabi Muhammad Saw., para sahabatnya dan seluruh orang-orang mukmin. Bagi mereka pemahaman yang hanya mengandalkan pada ketentuan teks-teks normatif agama (Al-Qur’an dan Sunnah) serta pada bentuk-bentuk Formalisme Sejarah Islam  paling awal (baca: salafus shaleh) adalah kurang memadai dan agama ini akan menjadi agama yang  a-historis dan eksklusif.[5]
Mereka lupa bahwa sikap seperti inilah yang diancam oleh Allah:
Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu[6] dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.[7]
Keenam, mereka tidak memiliki ulama dan tidak percaya kepada ilmu ulama. Mereka lebih percaya kepada nafsunya sendiri atau kepada guru besar mereka dari para orientalis atau missionaris, sebab mereka mengaku sebagai “pembaharu” bahkan “super pembaharu” yaitu neo modernis.
Dalam Qs. Al-Baqarah ayat 11-13, Allah berfirman:

“Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi[8]“. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” (11) Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. (12)  Apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman.” Mereka menjawab: “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu. (13)
 
Ketujuh, mereka memecah belah umat Islam karena gagasan mereka yang mengada-ada dan setiap mengada-ada pasti memecah belah. Di samping mereka adalah para profokator yang menghasut untuk memusuhi apa yang mereka sebut sebagai Islam fundamentalis, inklusif dan militan dengan pemaknaan yang serba mengada-ada.
Kedelapan, mereka memiliki basis pendidikan yang banyak melahirkan pemikir-pemikir liberal, memiliki media yang cukup dan jaringan internasional dan dana yang cukup, serta dukungan dari Negara-negara donor yang maju yang berwatak penjajah. Contoh kecil adalah Gunawan Muhammad bos JIL mendapatkan penghargaan dari Israel  dan hadiah 2 M karena  selama 40 tahun berjasa dalam menyebarkan paham menyimpang di negeri muslim terbesar dunia ini.[9]
Kesembilan, mereka tidak memiliki manhaj yang jelas dan baku serta tidak bisa diam, padahal diam adalah emas., memang begitu berat jihad menahan lisan. Tidak akan mampu melakukannya kecuali seorang yang mukmin.

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah mengatakan yang benar (dengan sebenarnya) atau (jika tidak mampu) diam.”[10]

Selain itu mereka sangat berbahaya, sebab mereka itu “sederhana” dan tidak memiliki landasan keilmuwan yang kuat dan tidak memiliki akidah yang mapan.[11]
Ringkasnya, jika umat Islam terpengaruh oleh pikiran JIL maka agama akan rusak, moral akan rusak, dan bahkan bisa mati dalam kondisi murtad, sebab mereka meyakini:
1.      Semua agama sama. Islam tidak beda dengan agama kufur dan syirik manapun, semuanya masuk surga.
2.      Semua orang beragama adalah mukmin, oleh karena itu semua bersaudara dan halal saling menikahi.
3.      Meyakini Islam satu-satunya agama yang benar tidak boleh. Oleh karena itu dakwah islamiyah pun tidak boleh. Wajib diganti dengan dialog, tukar menukar pengalaman dan kerja sama dalam bidang sosial keagamaan.
4.      Al-Qur’an adalah produk budaya, tidak suci dan tidak berada di atas manusia.
5.      Tidak ada yang namanya hukum Tuhan di bidang publik dan dunia. Hukum Tuhan hanya dalam ibadah.
6.      Nabi Muhammad hanyalah tokoh historis yang juga memiliki kelemahan-kelemahan, dan sunnahnya tidak mengikat umat, dan lain-lain.[12]


[1] Lihat: Pembaharuan Islam Di Indonesia: Pandangan Kristen, Martin Lukito Sinaga, islib.com, kolom, 3/4/2006.
[2] Lihat (misalnya) ali.otda.blogdrive.com, atau yang lain
[3] Qs. Al-Hujurat (49): 11.
[4] Ahmad Ibn Umar Al-Mahmashani, Mukhtashar Jami’ Bayan al-Ilmi wa Fadhlihi, Tahqiq: Hasan Ismail (1994), hal. 388-389.
[5] Syamsul Arifin; Menakar Otentitas Islam Liberal, Jawa Pos 1-2-2002.
[6] Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan.
[7] Qs. an-Nisa’ (4): 115.
[8] Kerusakan yang mereka perbuat di muka bumi bukan berarti kerusakan benda, melainkan menghasut orang-orang kafir untuk memusuhi dan menentang orang-orang Islam.
[10] Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim.
[11] Hartono Ahmad Jaiz, Bahaya Islam Liberal (2002) hal. 40, 64-65.
[12] Silahkan baca tulisan Bahaya JIL bagi Aqidah Umat, Pembentengan dan Solusinya di  http://ikhwan-nul-islam.abatasa.com/post/detail/13531/bahaya-jil-bagi-aqidah-umat-pembentengan-dan-solusinya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar