Sabtu, 20 Oktober 2012

THE POWER OF MUSLIMAH: MENCIPTAKAN GENERASI QURANI MELALUI PENDIDIKAN AL-QUR’AN SEJAK ANAK USIA DINI




Generasi qur'ani (mumtaaz yisc) from YISC Al-Azhar

Keluarga merupakan lembaga sosial pertama yang dikenal dan dekat dengan anak. Peran keluarga dalam proses pendidikan dan pembentukan kepribadian anak sangatlah dominan. Lingkungan keluarga yang kondusif sangat mempengaruhi perkembangan fisik, pribadi, moral, sosial, psikis, spiritual, emosional, dan juga peningkatan kapasitas diri menuju batas-batas kebaikan dan kesempurnaan dalam ukuran kemanusiaan. Pada dasarnya manusia itu mempunyai arah potensi yang positif untuk berkembang, akan tetapi aktualisasi potensi tersebut sangat ditentukan oleh pendidikan dalam keluarga, seperti Hadist Rasulullah SAW bahwa:

“Setiap anak dilahirkan atas dasar fitrah. Maka ibu-bapanyalah yang menasranikan atau meyahudikan atau memajusikannya.” (H.R. Bukhari Muslim)


Hadist tersebut menyatakan betapa pentingnya pendidikan dalam lingkungan keluarga. Dimana dalam hal ini keluarga berperan untuk membentuk pribadi anaknya ke arah yang lebih baik. Dan salah satu yang wajib diajarkan kepada anak adalah segala hal tentang Al-Qur’an sebagai pedoman hidup manusia. 


Anak-anak adalah calon pemimpin umat di masa mendatang. Pendidikan anak pada usia dini yang berkualitas akan sangat menentukan masa depan mereka. Hal ini menjadi sangat urgen ditengah maraknya arus globalisasi yang tidak hanya membawa dampak positif tetapi juga berdampak negatif pada perkembangan anak. Peran seorang muslimah ketika menjadi seorang ibu sangatlah penting dalam mendidik anak-anaknya, terutama pada saat anak masih kecil.



Ibu sebagai madrasatul ula bagi anak-anaknya mampu memenuhi kebutuhan anak, mampu menjadi teladan atau contoh serta sebagai pemberi stimulus bagi perkembangan anak. Mendidik anak merupakan tugas yang mulia yang diamatkan Allah SWT pada setiap orang tua khususnya para ibu agar anak-anaknya tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang merugikan, seperti yang difirmankan Allah SWT dalam QS At-Tahrim:6,

“Hai orang-orang yang beriman jagalah dirimu dan ahlimu dari siksa api neraka.”

Setiap orang tua berharap jika mereka memasuki usia senja atau telah menghadap Allah SWT nanti, anak-anak akan memanjatkan do’a bagi mereka. Dapat dipastikan bahwa anak sholeh dan sholehah mampu merealisasikan tugas mulia tersebut. Di era modern saat ini, membentuk generasi Muslim yang sholeh dan sholehah bukanlah perkara yang mudah.

Berbagai macam pengaruh-pengaruh yang muncul di era globalisasi sangatlah kuat, sehingga dibutuhkan suatu pertahanan diri yang kuat terutama pada anak-anak sejak usia dini. Hal ini dapat dijadikan suatu alasan tentang pentingnya menumbuhkan kesadaran untuk memperkenalkan Al-Qur’an dan menanamkan nilai-nilai keislaman kepada anak-anak sejak usia dini sebagai benteng pertahanan diri yang kuat terhadap pengaruh-pengaruh negatif dari luar.


Peran seorang muslimah ketika menjadi seorang ibu sangatlah penting untuk mendidik anak-anak mereka sejak usia dini. Dalam pendidikan Al-Qur’an, pembelajaran yang bermakna dapat dijadikan strategi penanaman nilai-nilai Al-Qur’an yang efektif, misalnya mengucapkan basmalah dengan memberikan makna bahwa seorang muslim jika tidak membaca basmalah amalnya akan ditolak. Mengapa ditolak? Ada apa dengan basmalah? Disinilah anak-anak diajak untuk memaknai pentingnya mengaktualisasikan nilai-nilai Al-Qur’an.


Mengenalkan Al-Qur’an sejak anak masih kecil sangatlah tepat, terutama ketika anak mulai tertarik dengan buku. Al-Qur’an dapat diperlihatkan pada anak sebelum mereka mengenal buku-buku yang lain. Al-Qur’an juga bisa dikenalkan melalui huruf-huruf hijaiyah dengan menempelkannya di dinding agar mudah terlihat oleh anak dan memancingnya untuk menanyakan lebih lanjut. Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an juga dapat diperdengarkan secara langsung maupun dengan memutar kaset atau CD.

Al-Qur’an bisa diperdengarkan kapan saja dan dimana saja tanpa mengenal batas usia anak. Untuk tahap membaca atau menghafalkan Al-Qur’an dapat dimulai sejak anak lancar berbicara, dimulai dengan ayat yang pendek ataupun potongan-potongan ayat. Kemudian memulai membimbing dan mendorong anak agar terbiasa membaca al-Qur’an setiap hari meskipun hanya beberapa ayat saja, utamanya pada pagi hari usai shalat shubuh atau usai shalat maghrib sebagai kegiatan rutin dalam keluarga. Kegiatan membaca al-Qur’an ini sebaiknya dilakukan secara bersama-sama oleh anak-anak dibawah bimbingan orang tua.


Kegiatan memperkenalkan Al-Qur’an selanjutnya yaitu belajar menulis ayat-ayat Al-Qur’an. Proses ini dapat dilakukan dengan mendikte anak dengan kata-kata tertentu dalam Al-Qur’an yang mempunyai makna. Hal ini dimaksudkan selain anak mampu menulis, anak juga belajar bahasa arab. Memberikan reward untuk anak sangat membantu untuk memacu motivasi internal anak untuk senantiasa belajar Al-Qur’an. Kemudian anak diajak untuk mengkaji isi Al-Qur’an secara rutin. Tema yang diangkat adalah tema-tema yang berkaitan dengan perilaku anak selama hari-hari terakhir dengan merujuk pada satu atau dua ayat Al-Qur’an dan juga tema-tema lain yang sesuai.

Proses yang paling penting adalah pengamalan seluruh isinya dengan membiasakan pada diri anak untuk mengamalkan hasil belajar Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak harus ditumbuhkan kesadarannya bahwa mereka butuh Allah SWT serta Rasul-Nya dan tanpa pertolongan Allah SWT mereka tidak bisa apa-apa. Selain itu, mereka perlu diajarkan bersyahadat dengan baik sejak dini, sehingga mereka nantinya akan mampu bersyahadat dengan baik melalui ucapan, hati, dan perbuatan.

Oleh karena itu, seorang ibu yang mendidik anaknya secara baik sejak dini dan diperkenalkan dengan Al-Qur’an dan nilai-nilai Islam, kelak mereka akan menjadi generasi Qurani yang baik sebab mereka akan selalu meletakkan norma kehidupan sesuai perintah Allah dan Rasul-Nya, sehingga setelah dewasa nanti mereka mampu memberikan fitrah bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘alamin.

Tips Mendidik Anak Sholeh





bismillahirrahmanirrahim


Salah satu amal yang tidak pernah terputus pahalanya sekalipun kita telah meninggalkan dunia ini adalah “anak yang sholeh/sholehah”. Doa anak yang sholeh juga merupakan salah satu doa yang insya Allah dikabulkan oleh-Nya. Bagaimana cara untuk mendidik anak kita menjadi anak yang sholeh? Didiklah ia dengan cara yang islami, seperti beberapa tips berikut ini:
  1. Biasakan anak kita bangun pada waktu shubuh. Contoh: sejak usia dini, ajaklah ia sholat shubuh bersama atau berjamaah di mesjid.
  2. Berikan ia lingkungan pergaulan dan pendidikan yang islami. Contoh: sejak dini ikutkan anak kita dalam TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an), mengikuti kursus di mesjid, dsb.
  3. Berikan teladan, bukan hanya perintah yang egois. Contoh: jangan hanya menyuruh ia belajar mengaji atau sholat, namun kita sendiri tidak melakukannya.
  4. Ajak anak kita untuk mengunjungi mesijd secara rutin. Contoh: secara rutin, ajaklah anak kita untuk berjamaah di mesjid.
  5. Perkenalkan batasan aurat sejak dini. Contoh: jika sejak dini kita biasakan anak perempuan kita menggunakan jilbab, maka saat dewasa ia justru akan merasa tidak nyaman jika memperlihatkan auratnya.
  6. Biasakan anak kita untuk selalu membawa perlengkapan sholat, terutama untuk anak perempuan.
  7. Minimalkan anak kita dalam mendengar musik-musik non islami. Sebaliknya, maksimalkan anak kita untuk mendengar ayat-ayat Al-Qur’an atau nasyid.
  8. Buatlah jadwal menonton TV dan dampingi anak ketika menonton. Jauhkan anak dari tontonan yang tidak mengandung unsur pendidikan, seperti: sinetron, film horor, film cengeng, dan lain-lain.
  9. Ajarkan nilai-nilai Islam secara langsung. Sampaikan nilai-nilai Islam yang kita kuasai kepada anak kita. Akan lebih baik jika dalam bentuk cerita yang menarik.
  10. Jadilah sahabat setia baginya. Jadikan ia nyaman untuk menjadikan kita tempat curhat yang utama sehingga kita akan selalu mengetahui masalahnya.
  11. Ciptakan suasana hangat dan harmonis dalam keluarga. Jika keluarga tidak lagi terasa hangat baginya, anak akan mencari pelampiasan di tempat lain.
  12. Lakukan semua tips di atas dengan bijak, sabar dan konsisten. Jangan pernah menggunakan kekerasan dan hindari sikap emosional yang dapat membuatnya sakit hati.
Semoga tips-tips ini dapat membantu kita menjadi orang tua yang baik bagi anak kita dan mengajaknya bersama-sama masuk ke dalam surga-Nya yang kekal. Amin.
alhamdulillahirabbilalamin

Referensi:
  1. “Jika seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah seluruh amalannya, kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah (yang mengalir pahalanya), ilmu yang dimanfaatkan, dan anak shaleh yang mendo’akan kebaikan baginya“. [HR. Muslim dalam Kitab Al-Washiyyah (4199)]
  2. http://auliyaa.blogdetik.com/2008/12/01/kiat-mendidik-anak-agar-sholeh-sholehah

Kiat Bagi Orangtua Agar Mempunyai Anak Sholeh



Siapa pun pasti mengidam-idamkan anaknya kelak menjadi anak yang sholeh. Untuk mewujudkan keinginan ini hendaknya dilakukan beberapa hal:
Pertama, hendaknya sejak anak masih berada di dalam kandungan, ibunya harus selalu mengkonsumsi makanan yang halal. Jangan sekali-kali memakan dan meminum sesuatu yang syubhat atau bahkan haram. Nabi Muhammad SAW. bersabda:
“Setiap daging yang tumbuh dari sesuatu yang haram, neraka lebih berhak baginya.”
Jika seseorang itu hartanya tergolong syubhat misalnya, maka hendaknya diupayakan agar harta syubhat itu tidak sampai dimakan, tapi dipergunakan untuk kebutuhan yang lain, sebab makanan yang shubhat atau bahkan haram itu pasti dapat menimbulkan dampak negatif pada jiwa orang yang mengkonsumsinya. Diceritakan, “Suatu ketika Abu Yazid Al Busthami mengadu pada ibunya perihal dirinya yang sudah beribadah kepada Allah SWT.
selama kurang lebih 40 tahun, tapi belum dapat merasakan nikmatnya beribadah. Beliau lalu bertanya kepada ibunya, jangan-jangan ibunya pada waktu mengandung atau menyusui dirinya dulu pernah mengkonsumsi makanan yang tidak halal.
Ternyata kekhawatiran Abu Yazid ini terbukti, ibunya tadi mengakui, bahwa pada masa menyusui Abu Yazid dulu, saat naik ke loteng dia pernah meminum air susu satu gelas tanpa mencari tahu dulu siapa yang memilikinya.”
Kedua, orang tua hendaknya senang dan cinta terhadap orang-orang yang sholih, agar anaknya kelak tertulari kesholihan orang-orang sholeh tersebut.
Ketiga, hendaknya orang tua selalu berdo’a kepada Allah subhanahu Wata’ala agar anaknya ditakdir menjadi anak yang baik. Ada sebuah ijazah do’a dari Kiai Romli, beliau mendapat ijazah dari Kiai Kholil Bangkalan, Madura, yaitu:
“Ya Allah, jadikanlah anak-anak kami termasuk orang-orang yang berilmu dan orang-orang yang baik. Dan janganlah Engkau jadikan kami dan mereka termasuk orang-orang yang sengsara.”
Keempat, hendaknya orang tua mengajarkan anaknya untuk mengenal Allah SWT, dimengertikan tentang tata cara beribadah, halal-haram, hal-hal yang menyebabkan kemurtadan, dan lain-lain. Setelah itu anaknya mau disekolahkan ke mana pun, terserah. Yang penting orang tua sudah menanamkan pendidikan dasar agama yang kokoh.
Dalam persoalan mendidik anak ini, orang tua jangan hanya memikirkan dan menghawatirkan anaknya dalam urusan dunia saja. Sebab jika begini, sepertinya yang akan mati hanya orang tuanya semata. Justru yang harus selalu diperhatikan dan dipikirkan oleh orang tua adalah bekal apakah yang akan dibawa dirinya dan anaknya nanti ketika menghadap Allah SWT. sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ya’qub AS. menjelang ajalnya.
Allah mengisahkan peristiwa ini dalam Surah Al Baqarah, ayat 133:أ“Adakah kamu hadir ketika Ya`qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (QS. Al Baqarah: 133).
Sebagai orang tua, kita jangan hanya memikirkan:
“Apa yang engkau makan setelah kepergianku?”
Jika orang tua memiliki anak yang sholeh, maka dia tak ubahnya seseorang yang mempunyai usia panjang, meski umurnya pendek sekalipun, karena setiap saat dia akan selalu memperoleh kiriman amal.


Read more: http://www.sarkub.com/2012/kiat-agar-mempunyai-anak-yang-sholeh/#ixzz29tKgIvJO