Selasa, 21 Mei 2013

Secuil kisah antara aku dan Rohis ..






            Ku tatap jam dinding menunjukan pukul 11.20 WIB. Ketika itu aku baru saja menyelasaikan tilawah  karena menunggu waktu shalat Jum’at  berjama’ah di Masjid At Taqwa Lembang. Setelah ku tutup mushaf dan ku tatap tempat mimbar imam, mengikatkanku pada sebuah peristiwa yang bersejarah bagiku.
***
            Biasanya hari Jum’at selalu ada dua agenda dijam yang sama. Seperti biasa, aku  dan teman –teman ikhwan seperjuangan selalu mempersiapkan untuk pelaksanaan shalat Jum’at berjama’ah di sekolah kami. Sedangkan akhwat, sibuk untuk mempersiapkan acara keputrian.

            Jum’at itu nampak tak seperti biasanya. Terlihat dari wajah teman-temanku yang sibuk dengan mushafnya. Dalam benakku berkata “emmhhh...tak biasa sahabat-sahabatku seperti itu?” Biasanya, mereka sibuk dengan obrolan duniawi. Ada yg membahas pertandingan bola dan idolanya, sibuk dengan rumus-rumusnya, dan ada pula yang fokus pada Hapenya. Tapi hari ini mereka kok aneh ya?”. Ada perasaan bahagia melihat sahabat-sahabatku itu, namun ada perasaan tak biasa juga. Tapi ya,,, tak apalah kalau berubahnya kearah kebaikan. Aku pun jadi tambah bersemangat untuk fastabiqul khoirat.
            Waktu adzan pun tiba, seperti biasa jadwal untuk menjadi sorang muadzin dilakukan oleh siswa dan kebetulan Jum’at sekarang adalah bagianku untuk mengumadangkan adzan.  Ketika itu yang menjadi khotib adalah Ustad Didin Wahyudin sekaligus mentor kami. 

Kami terbiasa memanggil beliau dengan sebutan “Kang Dididn”. Beliau adalah sosok yang luar biasa, walau pun bekerja sebagai staf TU di sekolahku tapi beliau tau banyak tentang agama. Ternyata beliau juga alumni Rohis waktu SMAnya.
          
  Beliau menyampaikan tentang 10 kriteria seorang muslim. Beliau menjelaskan bahwa seorang muslim tidak berkutat dalam pelaksanaan ibadah saja tetapi dalam seluruh aspek kehidupan, karena islam rahmatanlilalamin.

            Khutbah Jum’at itu diakhiri dengan bacaan do’a robithoh oleh beliau, yang entah kenapa do’a itu sangat sejuk dihati. Aku pun berdikir untuk mengumandangkan iqomah pertanda akan melaksanakan shalat.

            Takbir pun dibacakan. Senandung bacaan Al-Qur’an yang begitu indah dibacakan. Ya,,,surat Al-Fajr, disenandungkan oleh mentorku itu. Indah, dan sangat indah, membuat hati ini terenyuh dan memaksa bulu pundukku berdiri. Walaupun surat itu belum aku hafal, tapi entah kenapa hati ini merasa ingin sekali mengikutinya, lantunannya, senandungnya yang tak bisa dikalahkan oleh penyanyi ternama di dunia sekalipun.
            
Ya ayatuhannafsul mutma’innah, irji’i ila robiki rodiatammardhiyyah, fadkhuli  fi ibadi, wadklui jannati. 3 ayat terkhir yang menggetarkan hatiku. 3 ayat terkhir yang dengan cepat tersimpan di memori. Subhanallah inilah sapaan terlembut dari Rabb-ku. Kelembutan yang jauh lebih lembut dari mahkluk-Nya.

            Salam, menandakan Shalat telah usai. Kemudian aku bermunajat agar tidak mengecewakan Rabb-ku dan akan selalu mendekatkan diri pada-Nya, karena yang aku tahu, Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba yang ingin dekat dengan-Nya.

            Setelah selesai menunaikan shalat sunnah 2 rakaat, kulihat kembali teman-temanku yang sibuk dengan mushafnya. Masih sangat fokus, merelakan kebiasaan yang biasa dilakukan untuk sebuah komitmen. Ya,,, setiap ba’da Jum’at adalah jadwal mentoring kami si sekolah. Emmhhh,,,, baru tersadar, mungkin karena hari ini jadwal mentoring hingga teman-temanku menjadi aneh seperti itu.

            Lalu dengan sendirinya teman-temanku menghampiriku. Masih terbanyang, di pojok sebelah kiri masjid tua itu. Kami berkumpul dan mulai berdiskusi. Hanya sekedar untuk menunggu mentor kami datang. Ya,,, Ustad Didin Wahyudin beliau adalah mentor kami. Kebetulan tadi beliau langsung ke TU setelah beres mengimami.

 Saat berkumpul dengan teman-temanku, terlihat wajah ceria dan khawatir. Hanif, Farhan, Fadjar, dan Ridwan yang sering dipanggil Avo adalah teman kelompok mentoringku.
“Must, surat An-Naba hafal berapa ayat?” tanya Hanif kepadaku.
“Alhamdulillah nif, ana hafal 30 ayat. Tolong tes ya?” Pintaku.
“Sip-sip.” Jawabnya.

 Lalu aku dan hanif pun silih bergantian membacakan surat An-Naba. Setelah selesai kami bergantian membaca, aku teringat dengan tingkah laku aneh teman-temanku sebelum shalat Jum’at. “Kayaknya,mereka sibuk menghafalkan Al-Quran. Pantas saja mereka berkutat terus dengan mushafnya masing-masing.” Tebakanku.
“Kalau cuman hafal 5 ayat gimana ya?” pertanyaan Ridwan kepada kami.

 “Kayaknya, ga apa-apa Vo.” Fadjar menguatkan  Ridwan.
 “kita kan baru pertama ditugaskan untuk menghafal kan. Jadi kayaknya tak apa.” Farhan pun memastikan kabar gembira ini.
“7 ayat akhi ! kan one day one ayat.” Seru Hanif dengan semangat.

            Seketika, ibarat setetes air yang meresap kedalam tanah yang tandus, sedikit wajah ceria menerim perkataan dari Farhan langsung saja menghilang. Ridwan pun langsung fokus dengan mushafnya. Tapi Fadjar dan Farhan terlihat santai-santai saja, nampaknya mereka sudah ada digaris aman.        

“Assalamualaikum ...” Ustad Didin masuk ke dalam masjid.
“Wa’alaikumsalam ...” Jawab kami serempak.           

            Lalu acara mentoring pun dimulai, Hanif sebagai MC saat itu. Kulihat wajah tegang bersama teman-temanku, begitu juga diriku. Hanif pun membukan acara mentoring dengan membaca basmallah, lalu dilanjut dengan tilawah dengan 1 orang 1 lembar Al-Qur’an cetakan Syamil. Setelah tilawah beres Ustad Didin langsung memberikan tawaran siapa yang berani menyetor hafalan.

“Gimana hafalannya Akhi, ada yang sudah siap” pinta beliau.
“Ana Kang !!!” jawab Hanif.
Hanif pun membaca hafalannya tanpa masalah. Kebetulan dia adalah teman kami yang SMPnya berasal dari pesantren.
“Alhamdulillah, diantara antum sudah hafal. Tingkatkan ya Akh?” saranya.
“Kang, kalau 5 ayat boleh kan ya?” Avo mendahului Ustad Didin berbicara dengan penuh harap.

“Ga apa-apa akh, ana kan belum memberi batasan berapa ayat per-pekannya. Justru ana mengapresiasi kesungguhan antum semua. Jadi, mau Avo duluan ?” pinta Ustad Didin dengan wajah yang begitu sejuk.

“Ga kang, Mustofa duluan saja?” permintaannya.
“Iya mangga, Must, silahkan baca !” pintanya.
“Siap kang.” Jawabku.

            Aku pun membaca dengan menutup mata, karena Farhan selalu mengganguku. Kubaca Ayat Illahi itu dengan sungguh-sungguh. Walaupun beberapa kali sempat salah, tapi aku dapat menyelesaikan 30 ayat Surah An-Naba. Alhamdulillah.
“Subhanallah, semangat akhi, tinggal 10 ayat lagi.” Beliau memberikan semangat.
“Farhan, mangga baca?” pintanya lagi.
“Siap Kang.” Jawabnya.

            Farhan pun membaca dengan lancar tanpa hambatan. Pantas saja, dia kan punya sekolah menengah atas dan menegah pertama Islam di lembang.
“Jar? Baca.” Sahut Ustad Dididn.

“10 ayat saja kang.” Argumennya.
            Fadjar pun berhasil menyetor 10 ayat walau pun masih ada kesalahan – kesalahan.
“Avo...?” kata Ustad Didin
“5 ayat kang, heheh.” Pintanya.
            Ustad Didin hanya tersenyum dan Avo pun langsung membacanya. Sering salah tapi kemauannya yang tinggi dapat menuntaskan 5 ayat yang dipintanya. Aku sangat salut pada kawanku ini. Boleh dikatakan bacaan Qur’annya dia dibawah rata-rata kami. Tapi yang aku banggakan adalah kemauannya. Dia tidak pedulia orang mau bilang apa, yang penting dia belajar. Itulah yang dapat prediksi dari sahabatku ini.

“Subhanallah, antum semua begitu antusias untuk menghafalkan Al-Qur’an. Semoga hafalan yang antum baca menjadi penerang di Allam kubur dan menjadi Syafaat di Padang Mahsyar kelak. Amin. Semoga antum tetap istiqomah untuk menghafal kalam Illahi dan berkomitmen menjadi seorang Hafidz insyaallah.” Tambahan dari beliau untuk kami.
“Lanjut, agenda berikutnya adalah kultum dari Farhan dan dilanjutkan materi oleh Kang Didin. Mangga tafadhol!” Hanif melanjutkan amanahnya sebagai MC.

Hari itu sangat bersejarah bagi kami, hari dimana kami  menghafal Al-Qur’an dan menyetor kepada mentor kami. Tidak ada paksaan, tapi karena kesadaran diri. Bukan karena harus, tetapi karena ingin. Itulah modal kami untuk menghafal Al-Qur’an. Menghafal kalam Illahi yang diturunkan kepada idola kami yaitu Nabi Muhammad melalui perantara malaikat Jibril.

Sejak saat itu, Aku, Hanif, Fadjar, Ridwan (Avo), dan Farhan berkomitmen untuk menghafal Al-Qur’an. Menjadikan Al-Qur’an sebagai pandangan hidup dan As-Sunnah sebagai tata caranya. Inilah yang aku dapatkan dari Rohis. Sebuah komitmen yang aku implementasikan dalam segala aspek. Kepribadian, masyarakat, kepemimpinan, dan organisasi.
***
Lamunan itu buyar ketika seorang bapak tua menyarankan agar aku mengisi shaf paling depan. Lalu aku tersenyum sendiri ketika mengingat peristiwa itu. Hari yang sangat bersejarah yang membuatku kini tahu apa arti sebuah komitmen dan kesungguhan. Rohis yang membuat aku ingin menghafal Al-Qur’an. Rohis yang mengajari sebuah komitmen.
KAMI ALUMNI ROHIS, dan KAMI INSYA ALLAH SEORANG HAFIDZ.

dari Sayembara 100 Tulisan gara-gara Rohis kerjasama Rumah Rohis duaet bareng KPP smart syuhada dan flipper magazine

Tidak ada komentar:

Posting Komentar