Jumat, 24 Mei 2013

Dalam Dekapan ROHIS, Ukhuwah ini Terlukis





Sobat ROHISers,(yang bukan ROHIS jg boleh baca sih J ) ijinkan aku join buat bagi-bagi cerita yah. Kalo boleh sedikit flashback tentang masa remajaku yang udah kelewat jadul (cie…), aku berharap semoga menginspirasi teman-teman yang lain terutama yang masih mandang sebelah mata tentang ROHIS. Pengalaman ini ‘sesuatu banget’ buatku soalnya. Yang pasti merubah jalan hidupku ( ke arah yang lebih baik tentunya). Aamiin. Ok, let’s cekidot…

Aku bukan termasuk remaja kebanyakan yang selalu identik dengan persahabatan yang diwujudkan dalam gank, selalu diwarnai dengan nuansa merah jambu, dandan, dll. Aku paling ogah ngumpul-ngumpul sama cewek yang cuma satu gank

Aku lebih seneng kumpul-kumpul sama cowok-cewek yang pintar..(makhlum dulu aku tipe studi oriented banget).. Udah gitu aku juga anti sama yang namanya pacaran sampe jalan berduaan. Sueer, aku belum pernah pacaran, meski waktu itu aku belum tahu kalau pacaran itu haram hukumnya. Kalau suka sama seseorang, cukup disimpen dalam hati (^_^). Kalo terpaksa udah mbludak, kutumpahin aja lewat diary.

Hal ini lantaran didikan dari kedua orang tuaku yang cukup keras, terutama ibu. Aku bakalan kena murka kalau sampai ketahuan suka sama seseorang. Ibu juga akan marah kalau aku sampai telat pulang sekolahnya. Sedikitpun nggak kenal organisasi. Ini terjadi dari SD sampai SMP.

 Jadilah aku remaja yang hanya berkutat pada rumah-sekolah-rumah. Belajar dan belajar saja. Emang sih, ortu juga yang senang dengan hasil nilai yang membuat mereka tersenyum. Tapi, terus terang, serasa ada dunia yang kurang. Aku butuh teman berbagi. Buku diary memang bisa numpahin segala apa yang aku rasa. Tapi, dia ‘pasif’, nggak bisa kasih respon. Aku butuh solusi. Ibuku pun tidak bisa diajak berbagi. Baru kusadari, aku butuh itu. Persahabatan…

Memasuki bangku SMU, awal-awal sekolah aku masih seperti sebelumnya. Belum punya sahabat dekat. Aku masih enjoy gabung sama cowok –cewek yang notabene rame di kelas. Mereka menghibur, blak-blakan menilai diri apa adanya. Tidak kayak gank yang kadang ‘kekompakan’ itu serasa dipaksa.

Baru setelah bulan-bulan selanjutnya, aku mulai ‘digiring’ sama kakak-kakak kelasku yang menamakan diri mereka ROHIS, yang pada pake jilbab lebar buat ngikut acara yang waktu itu aku masih susah nyebutnya. Semacam kumpul-kumpul pekanan,. Yupz, mentoring. Tapi, aku pernah denger juga istilah liqo’ Waktu itu aku sering salah sebut jadi ‘likuk’ (semacam cemilan dari ketela). Apa hubungannya coba? Hehe…

Boring, suntuk, ngantukke pol-polan tiap kali ngikutin acara itu. Cuman duduk melingkar di kursi, kadang juga lesehan. Makhlum aja, pas kelas X jadwal skulku cukup padet. Bener-bener nguras tenaga. Itu pas hari jum’at. 

Jadwalnya olahraga, pelajarannya berat-berat, trus sore masih ada KJS (Kajian Jum’at Sore). Aku belum berjilbab. Padahal syarat ngikutin KJS adalah pakaian harus menutup aurat. So, jadilah hari itu ranselku selalu penuh oleh pakaian ganti. Belum buku-buku pelajaran. Hadew capek deh…

Siapa sih yang nggak bĂȘte? Dengerin mbaknya ceramah banyak hal. Mana bahasanya kebanyakan arab lagi. Kalau nggak karna ada “Rujak Party” rasanya pengen kabur aja. Hehe… Tapi, kenapa yah, tiap mau kabur selalu nggak jadi. Serasa ada yang nggendoli.. liat mbaknya pake jilbab lebar rasanya adem gitu. Pengen niru, tapii…

Gak kerasa, setahun berlalu. Terjadilah apa yang namanya ‘seleksi alam’. Temen-temenku mulai ‘berguguran’. Tersisa 2 orang. Akhirnya aku digabung sama kelompok lain. Aku makin enjoy sama temen-temen baruku itu. Hari demi hari, pekan demi pekan, dari jum’at ke jum’at koq aku lama-lama jadi betah ya duduk melingkar. Aku serasa nemu ‘gank’ baru. Gank yang lain dari gank-gank kebanyakan. Mau menerima apa adanya, saling mensupport, menasehati. Ah, pokoknya serasa saudara. Aku mulai kenal kosakata baru. Ikhwan, akhwat, akhi, ukhti, ‘afwan,  dll. Aneh awalnya, sering kebolak-balik, tapi jadi biasa setelahnya.

Dan aku mulai risih berkumpul sama temen-temen cowok di kelas dulu. Perlahan, sedikit mengurangi interaksi mulai dari nggak mau diajak salaman. Meski keki, mereka juga jadi nganggap aku aneh.aku masih belum berjilbab, jadi wajar kalo mereka rada gimana gitu. Biarlah..

Aku mulai lepas dari diaryku. Segala ganjalan di hati, kuluapkan ke mbaknya yang tiap pekan membersamai kami. Meski kadang cuma via surat. Dan dia dengan setia membalas. Sampai suatu ketika, beliau nanya, “ Dek, sudah ngaji setahun..kira-kira kapan mau berjilbab? Twewewew…aku cuma bisa nyengir..
Galau.. itu yang kurasakan sejak mbakku itu menodongkan pertanyaan kapan aku akan pake jilbab?? Apa kata ibu nanti? Oh, membayangkannya saja aku sudah ngeri setengah mati. Pasti ditentang habis-habisan.

Suasana hatiku semakin tak karuan, terlebih saat kutahu aku terpilih menjadi pengurus ROHIS ar-Rosyid periode XXV di SMA. Dan posisiku sebagai bendahara. Sebuah posisi yang paling tidak diminati oleh kebanyakan orang. 

Termasuk dalam tubuh ROHIS sendiri yang tinggal satu jabatan itu yang belum terisi. Terlebih Ibu yang sangat menentang posisi ini. Alasannya klasik, pegang uang ‘panas’ itu susah. Seandainya aku tidak amanah dengan jabatan itu nanti orang tua juga yang akan menganggung akibatnya. Sementara itu, bagiku ini pengalaman pertama kalinya aku berkecimpung di organisasi dan langsung menjadi PH (Pengurus Harian)..

Namun, sebenarnya bukan itu masalah utamanya. Sebelumya, aku sempat menolak ketika ditawari menjadi pengurus ROHIS. Karena saat itu aku belum berjilbab dan belum ada kemantapan hati akan berjilbab atau tidak. Apa kata seisi sekolah nanti begitu tahu ada pengurus ROHIS yang belum menutup aurat??? Begitu pikirku. Arg, buntu…
Tanpa sepengetahuanku dan entah atas pertimbangan apa, ada teman satu ‘gank’ ku yang diam-diam mendaftarkanku sebagai pengurus ROHIS. Begitu diumumkan, aku kelabakan sendiri. Mau nggak mau aku harus berjilbab nih. Dan aku sempat marah besar pada temanku itu yang tanpa izin memasukkan namaku dalam daftar pengurus ROHIS.

Senin, 21 Juli 2003
Subhanallah walhamdulillah,,,inilah babak baru dalam hidupku yang akan menjadi sejarah terindah. Ya, hari ini kali pertamanya aku mengenakan seragam panjang plus jilbab. Sesuatu yang sebelumnya noncent bakal terjadi padaku. Ternyata ‘hanya’ karena aku terpilih menjadi pengurus ROHIS, kedua ortuku akhirnya luluh juga untuk mengizinkanku pake jilbab. Nggak nyangka bener…(teruntuk seorang ukhti…’afwan jiddan sebelumnya, but jazakillah khoir sesudahnya atas kebaikan anti…^_^ )

Senang sekali hati ini begitu sampai di sekolah. Banyak mata menatap aneh denganku yang telah ‘bermetamorfosis’. Namun, yang lebih membuatku haru adalah bertubi-tubi ucapan, “ Alhamdulillah, baarokillah ya Ukhti. Istiqomah ya!,” dari mbak-mbak ROHIS dan juga teman-temanku sesama pengurus ROHIS. Dan tak kusangka pula, ternyata tidak hanya aku saja yang telah berjilbab. Rupanya temen se gank ku juga pada ikut berjilbab. Alhamdulillah…we ‘re the best gank..^_^

 Hari-hari mnempuh kelas XI terasa semakin nyaman dengan pakaian taqwa ini. Yah, walaupun kuakui masih ‘bongkar-pasang’ tak mengapa. Memang aku berjilbabnya hanya pas sekolah saja, sedangkan di rumah kulepas. Tak lain, yaitu karena ortu belum membolehkan. Slow but surely, Ukhti…

Selama menjabat jadi PH ROHIS, aku jadi keranjingan ke mushola. Padahal sebelumnya jarang. Hanya karena ada perpustakaan (yang menjadi tempat favoritku) saja, aku mau menyambangi tempat mungil itu. Aku mulai melahap habis buku-buku, majalah, kaset nasyid, CD , mushaf terjemahan di sana. Aku bener-bener menjelma jadi musafir yang kehausan. Tambahan lagi, hobbi nulisku mulai kubelokkan ke ‘jalur yang lurus’ (sebelumnya hanya beraroma merah jambu mlulu soalnya J). Maka, lahirlah puisi, cerpen dan tulisan-tulisan lain yang menghiasi mading ROHIS.

Ada satu peristiwa lagi yang membuatku semakin bangga menjadi bagian dari ROHIS. Waktu itu aku mendapat musibah, jatuh dari sepeda yang membuatku tidak bisa berdiri bahkan berjalan selama beberapa pekan dan hanya beraktifitas di atas tempat tidur saja. Setelah didiagnosa, persendian di lutut kiriku geser, yang menimbulkan pembekakan sehingga tidak bisa menyangga tubuh.

 Sehari setelah kejadian itu, yang pertama kali datang tak lain dan tak bukan adalah temen-temen se’gank’ ku itu. Aku serasa jadi ratu, dan mereka dengan setia menjadi ‘pelayan’ku. Padahal aku tahu, betapa capeknya mereka. Pulang sekolah masih ada rapat,, nyiapin kajian esok, ini itu… tetapi, mereka selalu siaga tiap kali aku butuh sesuatu. Sementara ibuku cuma salting. . hehe..

Tak kalah mengejutkan dengan hari pertama, hari kedua datang rombongan lebih banyak lagi. Ada tiga andong. Hah, pake andong?? Rupanya mbakku datang membawa adik-adik kelasku yang kelas X. Mereka adalah adik-adik mentoring. Aku hanya melongo… sementara gank ku pada cekikikan. Mereka menyembunyikan kejutan ini dariku ternyata. Subhanalloh, ukhuwah ini indah sekali…

Dan kini, sekitar 8 tahun berlalu sudah, sejak melepaskan ‘seragam’ ROHIS. Dan satu dekade menyelami indahnya ukhuwah dalam lingkaran itu. Kami terpencar di belahan bumiNYA, tuk menimba ilmu. Sekarang, kami sudah menjelma menjadi diri kami yang dulu kami impikan. Mimpi yang sempat ditanya sama mbak kami. Akan jadi apa kami nanti? Meski kami sadari, sekarang kami menempuh ‘jalan’ berbeda. Tapi, kami selalu tanamkan..bahwa kami masih satu akidah, satu iman, satu tujuan. Alloh Ghoyatunna…

Di ROHIS…
Ukhuwah ini terlukis.
Indah dengan goresan kanvas iman yang tak kan terkikis
Oleh rayuan iblis.
Ia yang selalu menyalurkan energi, dari pesimis jadi optimis.
Mangubah air mata tangis jadi senyuman manis
Maka, pantaskah jika ia disebut sarang TERORIS ???
Yang katanya selalu bermuka bengis, sadis, anarkis…
Huh, aku hanya bisa MRINGIS…(MaRaI naNGIS)

Special thanks to:
-                    Mbakku (semoga bahagia di JannahNYA. Salam rindu kami yg masih di bumi ini)
-                    Temen-Temen Ganks ku…(ingatlah, ukhuwah ini mengalahkan perbedaanJ )
-                    ROHIS Ar –ROHIS XXV SMANGAD (SMA NGADiretno) Keep our ukhuwah…J

Penulis:
Wiwik Sugih Arti
Karyawan BMT Makmur Gemilang Kantor Kas Ihsanul Fikri, Pabelan, Magelang


Tidak ada komentar:

Posting Komentar