Sabtu, 11 Mei 2013

Kaos dakwah ideologi - IMOST


You are what you wear.
…And you definitely promote what you wear.
‘Kamu adalah apa yang kamu pakai’. Ada ungkapan semacam itu. Siapa kamu -katanya- didefinisikan dari pakaian apa yang kamu kenakan. Terlepas dari setuju atau tidak kita dengan ungkapan tersebut, yang jelas ‘you definitely promote (or at least popularize) what you wear’. Walaupun tidak sevulgar seragam pembalap F1, suka atau tidak, tubuh kita adalah sebuah media. Kita tidak akan keluar rumah dan bertemu dengan orang-orang tanpa mengenakan apapun di tubuh kita, dan kita juga secara sadar memilih apa yang akan kita kenakan di tubuh kita. 
Sadarkah kita? di dalam apa yang kita kenakan terdapat ‘pesan’ yang akan tersampaikan pada orang-orang yang kita temui, baik yang secara langsung berinteraksi dengan kita maupun yang tidak. Apabila orang-orang itu tertarik pada ‘pesan’ tersebut maka mereka akan berhasrat untuk memilikinya ataupun sekedar menyetujuinya. Jika itu yang terjadi, berarti Anda telah mempromosikan apa yang Anda kenakan. Namun apabila tidak, minimal Anda telah mempopulerkan apa yang Anda kenakan, dan ‘pesan’ tersebut secara tidak sadar akan tetap tertanam di dalam benak orang-orang yang Anda jumpai itu.
Dalam konteks kaos, yang kita promosikan atau populerkan -selain brandnya- adalah konten gambar atau tulisan yang tercetak di atasnya. Kesadaran inilah yang melatarbelakangi munculnya IMOS.
Berbagai produk budaya Barat seperti film, musik, dan olahraga telah lekat dalam benak kaum muslim. Begitu masifnya produk-produk tersebut dijajakan hingga menjadi sangat populer di tengah-tengah kita. Banyak bahkan di antara kaum muslim yang menjadikannya gaya hidup seraya mengidentikkannya dengan kemajuan jaman, sebagai sesuatu yang wajib dikenal dan diikuti. Mayoritas kaum muslim kini lebih mengenal –dan mencintai- Barat dengan segala tokoh dan pernik kehidupannya, ketimbang hal-hal yang terkait dengan agamanya sendiri, Islam. Ajaran Islam dianggap kuno, hukumnya dicibir primitif, tsaqofahnya dinilai tidak penting, dan tokoh-tokoh besarnya sudah lama dilupakan.
Kaum muslim yang terlena dan terlanjur mencintai Barat akan berusaha memanifestasikan kecintaannya tersebut, salah satunya dengan mengenakan kaos. Ketika dia suka dengan suatu judul film atau gandrung dengan sebuah grup musik tertentu, dia akan mencari, membeli, dan mengenakan kaos yang di atasnya tercetak gambar atau tulisan yang berkaitan dengan film atau grup musik tersebut. Hal itu akan memunculkan kebanggaan dalam dirinya. Disadari atau tidak, dengan begitu dia telah secara suka rela menjadi ‘agen’ propaganda budaya Barat. Tanpa paksaan dia telah turut berjasa mempromosikan dan mempopulerkan konten yang tercetak di atas kaos yang dia pakai.
Pengemban dakwah ideologis adalah bagian dari kaum muslim secara umum. Tidak sedikit dari mereka yang juga menggemari berbagaiproduk budaya Barat. Banyak pula dari mereka yang menggemari kaos, sebagai pakaian yang simpel dan praktis untuk dikenakan. Akan tetapi, seorang pengemban dakwah ideologis secara sadar tentu tidak akan mau menjadi agen budaya Barat. Seorang pengemban dakwah ideologis tentunya lebih memiliki kebanggaan terhadap Islam sebagai ideologinya, dan kesadaran untuk menyebarluaskan, mempopulerkan, dan mempropagandakannya. 
Namun masalahnya adalah sangat sedikit kaos bernafaskan Islam, lebih-lebih Islam sebagai ideologi, yang bisa ditemukan di pasaran. Dari yang sedikit itu, IMOS -kependekan dari Ideological Moslem-hadir sebagai salah satunya, dan berhasrat untuk menjadi yang terbaik di antara yang lainnya.
IMOS adalah sebuah clothing brand berbasis di Yogyakarta yang mengkhususkan diri memproduksi kaos-kaos dengan konten ideologi Islam dan menyerang ideologi selainnya. Dengan slogan “wear your propaganda” IMOS memiliki misi ambisius : ‘Libas Kaos Junk!’ dan visi : ‘Propaganda Syari’ah Khilafah Mengepung Kota’. Sebuah tantangan untuk para pengemban dakwah. Oleh karena itu, sudah saatnya kini pengemban dakwah sejati -terlebih pengemban dakwah ideologis- ‘pasang badan’ untuk propaganda ideologi Islam dengan mengganti semua kaosnya dengan kaos IMOS. Berani?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar