Selasa, 21 Mei 2013

Memoar nasyid kenangan, Rohis pertamaku



Oleh: Annisa Fahmiati Nurzaman

“Andai matahari di tangan kananku
Takkan mampu mengubah yakinku
Terpatri dan takkan terbeli dalam lubuk hati
Bilakah rembulan di tangan kiriku
Takkan sanggup mengganti imanku
Jiwa dan raga ini apapun adanya”
Mesjid sederhana ini menjadi saksi. Lantunan parau para gadis kecil yang -dengan cinta- mereka dendangkan.

Delapan tahun lalu. Saat pertama kali mengenal rohis. Rohis pertama yang aku kenal sepanjang hidupku. Organisasi sekolah dengan segala kedamaiannya. Ah, nikmatnya saat itu. Meski hanya hitungan jari, mereka tetap terjaga dalam lingkarannya. Dalam upayanya menjaga satu sama lain. Bayanganku kembali pada masa itu.
“Ayo latihan!” ucap Siti mengalihkan lamunanku. 

“Oh iya, tunggu bentar,” jawabku. Sisa kepengurusan rohis ini hanya berkisar 8 orang. 6 orang akhwat dan 2 orang ikhwan. Namun entah mengapa, kami tak merasakan sosok mereka, para ikhwan. Mungkin kesibukan yang lain membuat keduanya enggan lagi membersamai kami dalam perjuangan ini. Alhasil aku ditunjuk untuk memimpin perahu kecil kami. Dengan terseok-seok, aku berusaha semampuku.

Hari ini, seperti hari lainnya, kami berkumpul di mesjid sederhana ini setiap sepulang sekolah. Banyak kegiatan yang kami lakukan di tempat istimewa itu, mentoring, belajar bersama, setor hapalan al-qur’an, hingga berlatih nasyid. Kebanyakannya kami lakukan sendiri, tanpa mentor. Karena jarangnya irisan waktu yang ada, antara kami dan mentor kami, membuat kami mandiri lebih cepat. Mungkin itu yang membuat ikatan ini sangat istimewa. Ukhuwah namanya.

Kali ini kami akan berlatih nasyid. Aku, Siti, Meli dan Aas. Kami berempat mulai berlatih dengan tilawah, melantunkan ayat cinta yang luar biasa. Setelahnya, kami bersiap pada posisi masing-masing. Aku dan Aas menjadi vokalis murni, sedangkan Meli dan Siti menjadi vokalis dan pemegang alat musik.

“...Andaikan seribu siksaan terus melambai-lambaikan derita yang mendalam
Seujung rambut pun aku takkan bimbang
jalan ini yang kutempuh
Bilakah ajal kan menjelang jemput rindu-rindu Syahid yang penuh kenikmatan
Cintaku hanya untukMu tetapkan muslimku selalu”
Mendalam.
 Kami menghayatinya dengan sempurna. Hingga kulihat ada titik air yang keluar diantara bolamata Siti. Ia kemudian menghapusnya cepat.

“Ah, Hujan!” ucap Meli sambil menunjuk kearah jendela. Membuat konsentrasi kami buyar.
Benar saja, diluar sudah mulai gerimis. Kami segera berhamburan keluar mesjid. Menyelamatkan sepatu dan barang-barang berharga yang masih tersimpan diluar. Aku tersenyum memandang ketiga sahabatku itu, istimewa.

“Ayo latihan lagi,” ucapku. Kali ini kami melantunkan nasyid itu lagi, diiringi suara gemercik hujan diluar sana. Syahdu.

“..Bilakah ajal kan menjelang jemput rindu-rindu Syahid yang penuh kenikmatan
Cintaku hanya untukMu tetapkan muslimku selalu...”

Beberapa tahun kemudian. Lembar cerita telah terganti. Kehidupan Sekolah Menengah kami telah sendiri-sendiri. Tak ada yang Allah satukan. Hingga kabar itu sampai padaku.
“Assalammu’alaikum wr. Wb.

Innalillahi wa Inna ilaihi roji’un...Sahabat semua, mohon doanya untuk Siti Aslamiyah, beliau telah berpulang sore hari kemarin karena penyakit kanker pencernaan...bagi yang mau melayat, besok kita kumpul di sekolah ba’da dzuhur, konfirmasi...”
SMS dari kakak kelasku itu membuatku tercekat. Hilang kesadaran untuk beberapa detik. Allah, benarkah??

Kuyakinkan diriku. Aku bertanya pada tiap orang yangmengenal beliau, dan jawabannya sama. Ya, Ia yang Allah panggil kemarin sore.

Allah, kenapa? Air mataku mengucur deras. Tak peduli sedang di dalam angkutan kota kala itu. Air mataku tak henti mengalir. Ada bagian hati yang sakit. Entah mengapa. Rasa kehilangan itu sungguh menyakitkan. Allah, kenapa?
Aku menangis sejadinya, saat ia dikafankan dihadapanku. Meli dan Siti memelukku erat. Menyuruhku beristighfar. “Astaghfirullah...” ucapku, lirih. Dengan air mata yang tak bisa kubendung. Air mata kehilangan, sangat dalam.
“Ikhlas, cha...lihat, Siti senyum...” ucap Meli menenangkanku. Menunjuk lesung di pipi wanita shaliha itu.

Ia yang dengan sabar mengajakku untuk tetap dalam lingkaran. Ia yang dengan lembut menegurku saat khilaf. Ia yang dengan tegas mengajakku untuk berbenah. Ia yang meneguhkanku untuk senantiasa menjaga auratku secara benar.

 Ia yang membuatku malu dengan semua keluhanku. Ia yang mengatakan “Aku orang pertama yang akan membuatmu bangkit saat kamu terpuruk!” ketika aku menyerah memimpin perahu kami. Ah, ia sungguh istimewa. Ia wanita shaliha. Pantas saja Allah memanggilmu cepat, karena Allah lebih mencintaimu, Siti Aslamiyah...

Hingga kini, memori indah saat berlatih nasyid itu selalu hadir. Ketika aku kembali pada tempat pertamaku mengenal rohis. SMPN 4 Cimahi.Meski keadaannya kini telah berbeda, namun kenangannya tak akan pernah berubah.

Allah, betapa indah jalan yang kutapaki ini. Lewat kumpulan orang-orang istimewa dalam lingkaran ini (rohis) kutemukan banyak cinta dan hikmah di setiap lembaran perjalanannya, hingga aku mencintai jalan ini...jalan yang membuatku mengenalMu lebih, mencintaiMu lebih...
Allah, pertemukan aku kembali dengan ia yang Kau cintai, dalam keridhoanMu...
Allah, pertemukan aku kembali dengan ia yang Kau cintai, dalam keridhoanMu...



Biodata penulis
Nama lengkap    : Annisa Fahmiati Nurzaman
Instansi       :       Jurusan Pend. Matematika/FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia/ LDK UKDM UPI

dari Sayembara 100 Tulisan gara-gara Rohis kerjasama Rumah Rohis duaet bareng KPP smart syuhada dan flipper magazine

Tidak ada komentar:

Posting Komentar