Selasa, 21 Mei 2013

Bayang ROHIS dalam Fisika Dasar




                      Senyum mentari masih bisa kuintip dari balik jendela Laboratorium Fisika Dasar ,  tak seperti Ibu Dosen Praktikum yang tak menampakkan senyumnya hari itu. Terasa sekali beliau sangat berbeda dengan pertemuan sebelumnya yang sangat ramah. “Pasti ada sesuatu” pikirku. Aura kebekuan nampak dirasakan pula oleh seisi kelas yang  berbalut jas lab putih.

Dari sudut kanan bangku paling belakang aku terus memerhatikan setiap gerak Bu Dosen. Peralatan praktikum GLB dan GLBB di hadapanku tak sedikitpun mengalihkan perhatian. Paling enak pekan kemarin karena aku duduk di bangku paling depan, meja praktikum “Elastisitas”, aku bisa dengan mudah menyimak arahan dosen. 

“Laporan anda semua salah, salah dan salah!” ucap Bu Dosen membuka pertemuan sambil menyimpan setumpuk laporan di atas meja paling depan setengah dilempar. “Silakan ambil laporan Anda, saya tunggu perbaikannya pekan depan”.

Dua jam praktikum terasa sangat lama. Hampir tak ditemukan wajah ceria keluar dari laboratorium . “Teh Nurul,  mau kemana sekarang?” tanya seorang teman asal Ponorogo “ Ke Mesjid, shalat dzuhur disana yuk Mba!” ajakku. Aku ingat sewaktu SMA kalau ada masalah di sekolah aku pasti lari ke Mesjid, mengadu kepada Allah, tak jarang teman-teman ROHIS juga menghiburku disana. Sambil berjalan menuju Masjid kami membuka Laporan praktikum masing-masing. 

Kupandangi laporan “Elastisitas”ku dari judul hingga daftar pustaka tak kutemukan coretan dosen sedikitpun, aku tak mengerti bagian mana yang harus kuperbaiki. Rasanya aku sudah berusaha maksimal untuk mengerjakan laporan itu. Pelatihan pembuatan laporan praktikum fisika dasar di himpunan aku ikuti, slide sistematika laporan dari dosen berusaha aku pahami. 

                Buku setebal bantal rela aku baca demi mendapatkan landasan teori untuk laporan praktikum. Aku bahkan telah menghitung  nilai besaran yang harus dicari dalam praktikum berulang kali. Aku menangis sejadi-jadinya usai shalat dzuhur di lantai 2 masjid. Aku memang tak berpengetahuan, aku bahkan tak tahu apa yang harus aku perbaiki.

Fisika, kabarnya mahasiswa pendidikan biologi tak terlalu suka dengan mata kuliah yang satu ini. Seorang teman bahkan memilih biologi untuk menghindari fisika. Hahaha…ternyata bersua pula dengan fisika. 

Sewaktu SMA aku suka fisika, dan sekarang? Aku tengah berpikir ulang untuk tetap menyukainya atau…. Ah, itu sebenarnya bukan persoalan, masalahnya sekarang adalah bagaimana memperbaiki laporanku. Kebingungan masih menyelimuti dan entah harus kubiarkan sampai kapan. 

Tiba-tiba wajah adik-adik ROHIS SMA hadir di kepalaku. Ah, besok kan  jadwal bertemu mereka di sekolah, kami biasanya akan berdiskusi topik-topik seputar agama, trik-trik belajar di sekolah atau bahkan ngarujak bareng. Kalimat pertama yang biasanya dilontarkan setelah salam adalah “Teteh, apa kabar?” haruskah kujawab “Galau” haruskah aura kegalauan gara-gara bingung dengan laporan tetap bersarang hingga esok hari? Bahaya, ini bisa menular ke adik-adik ROHIS di sekolah.

“Oh, Ya Allah haruskah adik-adik ROHISku melihat kerapuhan kakaknya? Tolonglah hamba-Mu Ya Allah” teriakku dalam hati. Aku harus ceria, semangat ketika berjumpa dengan adik-adiku besok. Melupakan laporan begitu saja tentu bukan sebuah penyelesaian. Memperbaiki? Hal yang tak mungkin juga aku lakukan sementara aku belum menemukan letak kesalahannya.

                    Sebagian teman memutuskan untuk minta bantuan kakak kelas jurusan fisika yang satu kost dengan mereka nanti malam. Kalau aku ikut mereka tentu aku harus menginap. Menginap, tentu juga tak mungkin karena aku belum minta izin orang tua,HP ataupun telepon masih barang langka di tahun 2000. 

Aku tak ingin ayah ibuku kesusahan mencari putri sulungnya. Birrul walidain, berbuat baik kepada orang tua adalah tema yang sering juga dibahas di ROHIS. Akhirnya aku memutuskan untuk menemui Bu Dosen, siapa tahu beliau berkenan menunjukkan bagian laporan yang harus ku perbaiki.

Laboratorium sepi tapi pintunya terbuka, pasti ada orang didalamnya. Kuketuk pintu sebuah ruangan yang disekat di dalam lab, “Assalamu’alaikum, boleh saya masuk?” “Wa’alaikumsalam, buka saja!” sahut Bu Dosen. Aku dipersilakan duduk, “Ya, ada apa? Kamu anak biologi ya?” tanya Bu Dosen dengan senyum khasnya. 

“Betul Bu saya mahasiswa biologi yang tadi praktikum. Seperti yang Ibu sampaikan bahwa laporan kami semua salah. Saya sudah membaca kembali laporan saya dan mencari bagian yang harus saya perbaiki. Maklum Bu, ini laporan praktikum FisDas pertama yang saya buat, saya kebingungan menemukan bagian mana yang harus saya perbaiki.” paparku dengan hati berdebar.

 “Coba saya periksa” Bu Dosen memerhatikan laporanku dari awal hingga halaman terakhir, aku menunggu sambil harap-harap cemas. “Ehm, laporan kamu sudah benar. Laporanmu mungkin terlewat diperiksa. Silakan mau dikumpulkan sekarang atau bareng dengan yang lain?” kalimat yang meluncur itu sama sekali tak kuduga. “Nanti saja Bu, sekalian dengan teman-teman. Terima kasih banyak Bu” akhirnya aku bisa pulang dengan riang.

Alhamdulillah. Aku bisa melalui tahun pertama kuliah dengan nilai A untuk Fisika Dasar I dan II. Tak bisa kubayangkan jika saat itu aku menyerah dan memutuskan lari dari mata kuliah Fisika tentu ijasah sarjana tak bisa ku kantongi. 

Syukurku kepada Allah yang telah mengijinkan  aku  menempa diri di ROHIS, belajar untuk menghadapi hidup, belajar memahi bahwa tak mungkin Allah berikan beban tanpa pundak (hihi…yang ini sih lirik lagu salah satu nasyid). Alhamdulillah, ijasah S1 menjadi salah satu bekal untuk mendapatkan beasiswa Magister Bioteknologi di salah satu PTN di Bandung.

Alhamdulillah, gara-gara ROHIS ;)

dari Sayembara 100 Tulisan gara-gara Rohis kerjasama Rumah Rohis duet bareng KPP smart syuhada dan flipper magazine

Tidak ada komentar:

Posting Komentar