Selasa, 21 Mei 2013

Gara-Gara Teater Anak ROHIS


oleh Imas Saripah

Hari itu, kawan-kawan sekelasku yang berjilbab rapi mengajakku untuk bersama-sama shalat dhuha di masjid sekolah. Sungguh, pengalaman yang sangat luar biasa, mendirikan shalat sunnah di sela waktu istirahat tiba. Perlahan kedamaian menelisik memasuki rongga dada.

Hari-hari berikutnya aku merasa nyaman berada diantara mereka, remaja yang penuh semangat mengenal Tuhannya. Salah satu dari mereka mengajakku untuk ikut serta memainkan sebuah peran dalam sebuah pementasan teater.

 Teater  ini akan dipentaskan saat pengenalan ekskul sekolah bagi siswa baru. Selepas pulang sekolah, kami menyempatkan untuk menggelar latihan di masjid sekolah. Aku dan teman-teman baruku ini belum bisa latihan dengan baik.
***

Cermin besar itu aku pandangi, beberapa menit lagi MC akan memanggil ekskul ROHIS. Pakaian serba hitam menjadi kostumku kali ini, lengkap dengan saripohatji  putih menutupi wajahku. Ingin tertawa aku melihat diriku sendiri. Seharusnya kaos tim basket yang aku kenakan. Lima orang berpakaian sama sepertiku, enam orang lainnya berpakaian serba putih.

Saat langit berwarna merah saga
Dan kerikil perkasa berlarian
Meluncur laksana puluhan peluru
Terbang bersama teriakan takbir

*Shoutul Harokah

Empat orang membentangkan kain merah, melakukan beberapa putaran sambil diiringi lagu Merah Saga. Aula berubah hening, semua mata memandang penasaran apa yang akan ditampilkan ROHIS kali ini? Kemudian, pasukan serba putih memasuki arena pentas. Terpancar senyum yang melelahkan, bahkan ada beberapa orang yang dibantu untuk berjalan. Seberkas darah tampak pada lutut kanan dan dahinya yang berkeringat. Mereka tampak sedang beristirahat melepas lelah dan gelisah.

Namun, tiba-tiba beberapa pasukan berpakaian serba hitam dengan wajah yang amat putih karena ulah saripohatji, berlari mengepung pasukan Palestina.
Ketika Yahudi-yahudi membantaimu
Merah berkesimbah di tanah airmu
Mewangi harum genangan darahmu
Membebaskan bumi jihad Palestina

Tak ada lagi waktu melepas lelah, semua kini telah bersiap siaga dengan sisa tenaga yang masih menyala-nyala. Hadirkan Allah dalam setiap tetesan keringat yang mulai mengucur merah. Pemuda-pemuda dan anak-anak Palestina tak mau ketinggalan, melemparkan kerikil yang yang melesat bagai peluru tercanggih di dunia.

Sejenak aku teringat kisah burung Ababil yang juga melemparkan batu-batu panas dari neraka untuk mencegah pasukan Raja Abrahah yang hendak menghancurkan Ka’bah.

Aku menyerang salah satu penduduk Palestina, seorang ibu yang merintih kesakitan setelah pura-pura aku tendang. Ah, sungguh kejam Yaudi laknatullah. Sesungguhnya, tak sudi aku mengambil peran ini. Kulihat temanku yang sedang berperan menjadi sang ibu, meneteskan air matanya, serasa benar adanya. Terbayang, kaum hawa di Palestina, pasti mereka tak luput dari kekejaman zionis.

Tak sadar, air mataku ikut meleleh. Tapi aku harus tetap memasang wajah garang, berlainan dengan kalbuku. Wahai saudaraku di Palestina, sungguh aku berdo’a untuk keselamatan kalian, semoga selalu dalam lindungan dan kasih sayang Allah.

Pementasan teater diakhiri dengan lagu Rabithah dari Izzatul Islam
Sesungguhnya Engkau tahu
Bahwa hati ini telah berpadu
Berhimpun dalam naungan CintaMu
Bertemu dalam ketaatan
Bersatu dalam perjuangan
Menegakkan syariat dalam kehidupan

Kuatkanlah ikatannya
Kekalkanlah Cintanya
Tunjukillah jalan-jalannya
Terangilah dengan CahayaMu yang tiada pernah padam
Ya Rabbi bimbinglah kami

Senandung yang indah, merdu dan terkandung makna luar biasa disetiap kata-katanya. Serupa do’a untuk jiwa ini yang telah lama tandus. Mata ini mengembun, dan jatuhlah air ditepi mataku, mengalir pada pipi saripohatji.

Ah, kapan terakhir aku mengurai air mata ini untuk Rabbku yang amat dekat, untuk saudaraku di Palestina. Tepuk tangan penonton menyadarkanku kembali, tapi kubiarkan lelehan dipipi ini. Kami pun mengakhiri dengan salam penuh takzim kepada seluruh penonton yang menyesaki aula. Sambil berlalu, kulihat beberapa penonton, menyeka air matanya yang terlanjur jatuh.
Kini aku tersadar…

Allah berikan peran dalam pementasan teater ini untuk menyentilku yang masih saja sibuk dengan aktifitas keremajaan yang kurang  bermanfaat. Aku masih bermain-main dengan waktu, yang terasa kosong dalam relung jiwaku yang masih labil.

Tapi Aku yakin Allah, mencintaiku, sehingga Dia akhirnya menepikan aku di tengah-tengah sahabat ROHIS ini, sahabat baruku. ROHIS yang ternyata menaruh perhatian besar pada saudara-saudara di Palestina. Masya Allah, kemana saja aku selama ini?...Kontemplasi.

Aku telah mengenakan kain kerudung semenjak kelas satu, tapi begitulah, aku malah jauh dari nilai-nilai Islam. Ekskul Basket Aku jalani saja.

Kerudungku hanya topeng semata. Allah kemudian memanggilku melalui indahnya berkawan dengan anak-anak ROHIS. Hari-hariku kini berubah, aku temukan cahaya pelangi indah Islam, ukhuwah dan nikmatnya beribadah. Aku putuskan untuk memilih jalan ini. Bergabung dengan sahabat-sahabat terbaik yang mengingatkanku pada Allah dan Rasulullah.

Mentoring selalu jadi agenda yang aku nantikan, momen dimana aku mulai melangkah,meniti jalan Cahaya ini. Perlahan kuperbaiki sikap, penampilan dan tutur kataku. Semakin bersemangat mencari ilmu. Di sini kami saling mengingatkan, saling menguatkan dan saling berbagi kasih sayang.

Indahnya sebuah organisasi adalah ROHIS, dimana remaja sepertiku mulai mengenal pembagian tugas dan menikmati tugas yang mempunyai tujuan yang jelas. Ini kali pertama aku merambah dunia organisasi. Semakin aku meninggalkan sikapku dulu yang terasa dingin, kaku dan acuh terhadap sekitar.

 Di sini, di ROHIS, aku temukan diriku. Mengemban Divisi Mading, kemudian mengajakku untuk terus berinteraksi dengan berbagai macam buku, narasumber dan membaca lingkungan sekitar. Kata Ibu, aku mulai terlihat ceria dan mempunyai sikap terhadap apapun, belum lagi ibadahku yang perlahan mulai nampak indah di mata ibu, semoga indah pulah di Mata Allah SWT.

Begitulah diriku mengenal organisasi ini. Ekskul yang tak pernah bisa kulupakan meski telah lama menjadi alumni putih-abu abu. Setiap mampir, bertemu adik-adik ROHIS, aku selalu menceritakan kecintaan dan kerinduanku pada organisasi ini. Beruntunglah mereka, karena orang-orang pilihan saja yang mampu bertahan di sana.

Sami el Syarifah (Alumni ROHIS SMKN 3 Bandung)
Oktober 2012

dari Sayembara 100 Tulisan gara-gara Rohis kerjasama Rumah Rohis duet bareng KPP smart syuhada dan flipper magazine

Tidak ada komentar:

Posting Komentar