Selasa, 23 Mei 2017

Pemuda Hijrah Bandung

Oleh: W. Danang Priyanto

(Pijar.net) – Rasanya ajaib tak terduga. Tepat dijantung kota yang riuh dengan segala hiruk pikuknya, di sebuah sudut saya menemukan sepetak tempat terbaik di dunia. Masjid Al Lathiif namanya. Empat shaf panjang saat shalat Ashar itu mengirimkan kesan bahwa bangunan berkarpet merah dijalan Saninten ini adalah masjid yang istimewa. Masjid yang begitu hidup denyutnya.

Sore itu, cerah makin meredup. Jam dinding ruang DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) menunjukkan angka lima. Di Al Lathiif, pukul lima sore adalah warning. Peringatan agar jamaah segera merapat, karena sedikit saja terlambat, niscaya tak akan kebagian tempat. Bahkan untuk sekedar shalat di barisan paling buncit. Jamaah Maghrib dan lsya memang selalu membludak, minimal tiga kali dalam sepekan saat ada kajian. Sejenak, mari kita bandingkan kondisinya dengan masjid di sekitar kita, yang sering terlihat kosong tak berisi, meski diadakan kajian berkali-kali.

Saya pun segera bersicepat, menyorongkan badan masuk ke dalam. Sekedar mencari space satu dua ruas kaki, cukuplah. Dan ternyata betul juga, dengan perjuangan ala kadarnya, saya kebagian shaf di ujung paling belakang.

Tak lama kemudian, shalat Maghrib didirikan. Ustadz Hanan Attakki yang menjadi imam, syahdu lantunkan beberapa ayat dalam Al Quran. Terdengar isak tangis di antara jamaah, lirih mengiringi sujud demi sujud. Hati pun makin melarut, dalam takjub.

Usai maghrib, kajian pekanan dimulai. Lagi-lagi jamaah bertambah sesak, membikin kaki tak luasa bergerak. Terdesak gelombang manusia yang sekonyong-konyong berhamburan dari luar guna mengikuti taklim pekanan.


Jika anda membayangkan yang datang di majlis ini adalah orang-orang tua seperti kebanyakan majlis taklim kita, anda salah besar. Karena di sini 90 persen adalah anak muda. Dan rata-rata bukan pemuda biasa, mereka adalah pemuda istimewa. Yang sedang menetapi janji kemuliaan dengan hijrah menuju kebaikan. Ada anggota band underground, komunitas skateboard dan surfing, anak-anak punk, pengusaha distro, anggota geng motor dan sebagainya.

Maka jangan heran kalau suatu saat kita akan bersua dengan Kiki (pentolan geng motor Brigez), Donny (ex vokalis band underground), atau Pevi sang juara skateboard Asia yang sedang bersimpuh dalam teduh. Mereka adalah contoh anak-anak muda yang telah merasakan benar bahwa hingar bingar dunia itu fana dan tak membersitkan bahagia sesungguhnya. Mereka adalah ex “pemakai” yang sadar sesadar-sadarnya bahwa narkoba, bar dan diskotik itu sekedar menyuntikkan kesenangan sesaat, tak lama.

Ketika kesadaran itu begitu menguat dalam dirinya, berbondong-bondong mereka kembali kejalan Allah dalam sebuah gerakan bernama Pemuda Hijrah.

Dari Ashar hingga larut malam, saya beserta tim layanan sosial dari dakwah NH berguru kepada mereka. Berbincang strategi dakwah dengan orang-orang yang berada di gerbang perubahan anak-anak muda itu. Orang-orang yang santun, tawadhu’ dan ikhlas memompakan energi perubahan.

Tanpa imbalan dunia, mereka mengajak terus kawan-kawannya di berbagai komunitas untuk sama-sama hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya. Di antara mereka, kami ditemui langsung oleh Kang Jerry pengusaha distro yang didapuk sebagai Presiden Shift a.k.a Pemuda Hijrah. Ada juga Inong, icon hidup skaters Indonesia, orang yang berada di balik pesan-pesan kreatif pemuda hijrah. Juga Arif yang kebagian ngulik media sosial.

Saya menepi di sana memang tak lama. Namun ada hikmah yang tersimpan begitu dalamnya. Tentang makna hijrah yang sesungguhnya, persis seperti yang disabdakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. “Seorang muslim ialah orang yang kaum muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Dan seorang muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Hijrah adalah jalan kemuliaan tempuhan para nabi. Tak hanya Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, Nabi Musa dan Ibrahim pun pernah diperintah untuk berhijrah sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, “Dan berkatalah Ibrahim: “Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Tuhanku (kepadaku); sesungguhnya Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (TQS al-Ankabut: 26)

Dengah hijrah Allah meninggikan derajat dan memberi jaminan surgaNya. “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dijalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari pada-Nya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal, Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (TQS at-Taubah: 20-22)

Dari para pemuda hijrah, saya juga belajar tentang makna dakwah yang sesungguhnya. Bahwa dakwah itu penuh perjuangan. Kadang sakit dan sedikit pedih. Terceritakan pengalaman, bagaimana beratnya mereka meninggalkan keluarga juga perjuangan memahamkan pasangan hidup yang tak sejalan demi menjawab seruan kebaikan.

Saya sungguh berdoa, semoga Allah memberi pujian pada mereka, para penyeru kebaikan yang memberikan manfaat tak hanya kepada dirinya sendini, melainkan juga untuk orang lain.

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّـهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal shalih, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri.” (QS. Fushilat : 33)

Semoga dari kisah ini, ada inspirasi yang tumbuh di hati untuk sekali-sekali berani keluar dari zona nyaman, ikut berdebu berpeluh di jalur dakwah. Karena dakwah adalah amalan terbaik, yang akan memelihara nilai Islami di dalam pribadi maupun masyarakat. Serta membangun pondasi keshalihan di atas kesalihan-kesalihan yang lain. Karena tanpa da’wah, amal sholeh tidak akan ada.

Semoga kita semua berada di jalur para kekasih Allah, penduduk bumi yang paling Allah cintai. “Lalu serulah mereka untuk masuk Islam dan kabarkan kepada mereka hak Allah yang wajib mereka tunaikan. Demi Allah, apabila Allah menunjuki seorang saja melalui dakwahmu, itu lebih baik bagimu daripada kamu memiliki onta-onta merah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Selamat mengambil peran dalam dakwah suadaraku. Semoga Allah bersamamu..

Wallahu a’lam bisshawab

____________
Sumber: Majalah Nurul Hayat Edisi 143






Tidak ada komentar:

Posting Komentar