Senin, 16 Maret 2015

Mendobrak “Sekat” Kemapanan dari Teras Rumah


hidayatullah - Hasilnya, pada awal tahun 2014, jumlah peserta Ngaji mencapai 100 orang. Jamaah datang dari berbagai lokasi seperti Banguntapan, Monumen Jogja Kembali (Monjali), jalan Magelang, dan lain-lain.

OJO LEREN Dadi Wong Apik!” Tulisan berwarna kuning itu kontras terlihat di baju hitam para  panitia peluncuran Teras Dakwah- Ngaji- Pesantren Masyarakat Jogja (PMJ) Nitikan belum lama ini.

Tulisan yang berarti: jangan berhenti menjadi orang baik, memberi makna supaya masyarakat terus berbuat baik dan bersungguh-sungguh melakukan pekerjaan mereka. Umat muslim harus menunjukkan manfaatnya bagi masyarakat, salah satunya melalui kewirausahaan.

Hal itu disampaikan oleh Rosyid Ardianto, Ketua Pesantren Masyarakat Entrepreneur PMJ, Nitikan saat ditemui usai peluncuran acara itu, Ahad 2 Maret 2014.

PMJ Nitikan hidup sebagai media meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam. Selain mengaji, belajar membaca Al-Quran, Hadits dan Shirah Nabawiyah, jamaah akan mendapatkan mentoring bisnis dan dilatih menjadi wirausaha.

Setiap Rabu setelah shalat Maghrib, berbagai praktisi usaha akan didatangkan untuk berbagi pengalaman. Hal itu seperti pada 12 Maret mendatang, pengusaha Siomay asal Yogyakarta, Sunoto, akan berbagi pengalaman membesarkan usahanya.

Generasi kedua Bakmi Mbah Mo, juga pernah membeberkan strategi keluarga besar mereka dalam mempertahankan bisnis keluarga. Bakmi legendaris asal Bantul itu juga menyemangati anak muda untuk tidak pernah ragu memulai berbisnis.
Kehadiran para pengusaha Yogyakarta itu juga berfungsi sebagai mentor bisnis dalam pengajian yang bernama Bisnis Sukses dan Barokah. Anggota pengajian yang rata-rata berusia 20-30 tahun itu diasah kemampuannya melihat ceruk bisnis, merancang strategi pemasaran, bahkan sampai pembuatan laporan keuangan.

“Mereka juga diajarkan membuat proposal usaha. Tapi, ya lebih banyak langsung action,”ulas Kang Puji, pria yang kini sukses mengembangkan air minum kemasan V02.

Peserta pengajian itu, ujar Rosyid, tidak semua memulai bisnis dari nol. “Beberapa dari mereka ada yang sudah punya usaha, ada yang belum. Ada pengusaha es krim, pengusaha air minum isi ulang. Nanti kita bantu kekurangan usaha mereka dimana,”ulasnya.
Rosyid mengakui, bagi para pemula, munculnya rasa takut dan ragu, pasti ada.

“Tapi dengan sinergi berbagai pihak, insya Allah teratasi,”tuturnya.

PMJ juga menggandeng Herry Zudianto sebagai penasihat. Mantan Wali Kota Yogyakarta itu juga dikenal sebagai pemilik bisnis Margaria Group.

Selain meningkatkan taraf hidup umat, berwirausaha diharapkan dapat membiayai perjalanan dakwah selanjutnya.

Teras Rumah

Bermula dari teras sebuah rumah di Jalan Nitikan UH VI/413, Yogyakarta, Teras Dakwah Ngaji- Pesantren Masyarakat Jogja (PMJ) Nitikan, resmi diluncurkan pada Ahad, 2 Maret 2014.

Menginduk pada PMJ Pusat di Kersan, Bantul, Yogyakarta, PMJ Nitikan diharapkan dapat merangkul lebih banyak masyarakat Yogyakarta dalam mengkaji ilmu-ilmu syariah.

Pengajian ini menurut M. Akhid Subianto, Ketua PMJ Nitikan, sudah sejak tahun 2011 digulirkan. Akhid memanfaatkan teras rumah orangtuanya, menghimpun para pemuda di kampung itu. Bersama teman-temannya yang juga mengaji di PMJ Pusat, Ia menginginkan perluasan titik dakwah.

Pada 2011 Akhid mengumpulkan pemuda-pemuda di sekitar rumahnya. Warga disana diajarkan membaca Al-Quran dan ilmu fikih. Tahun pertama dan kedua, ada sekitar 20-30 orang yang datang setiap pekannya. Anak SD didorong menghapal Quran setiap hari.

Tahun 2013 mereka mulai berpikir meluaskan dakwah sampai pelosok Yogyakarta.

“Wah, kok mung ngene thok (kok cuma dari saja, red). Sayang kalau konsumsi untuk sekitar Nitikan saja,”ungkap alumni Universitas Muhammadiyah Yogyakarta itu.

Berbagai lembaga dakwah dan remaja masjid di Yogyakarta akhirnya diajak bersinergi. Para Ustadz dari berbagai jaringan masjid di Yogyakarta diminta mengisi ceramah di lokasi yang letaknya di selatan kota itu.

Jejaring media sosial akhirnya mereka manfaatkan. Info-info kajian tersebar.

Hasilnya, pada awal tahun 2014, jumlah peserta Ngaji mencapai 100 orang. Jamaah datang dari berbagai lokasi seperti Banguntapan, Monumen Jogja Kembali (Monjali), jalan Magelang, dan lain-lain. Mereka juga ingin tahu perkembangan info umat terkini.

Seperti pada Selasa, 5 Maret 2014, Ustadz Umar Said akan membahas Syiah bukan Islam. Kemudian pada minggu berikutnya, ada kajian tentang bisnis, dan berbagai tema lainnya mengenai pemberdayaan diri bagi masyarakat dengan tema: “Ojo Leren Dadi Wong Apik!”

Optimis dengan perluasan dakwah tersebut, berbagai gerakan lahir.

Berawal dari teras rumah, gerakan selanjutnya banyak dinamakan dengan awalan kata “teras”.

Apa ya namanya? Ya udah, pakai teras saja. Ada Teras Tahfidz, Kafilah Sedekah dan Pesantren Masyarakat Entrepreneur,” ucap pria yang semasa kuliah aktif di berbagai Lembaga Dakwah Kampus (LDK) itu. Semua gerakan tersebut dinaungi Ngaji-PMJ Nitikan.

Bersinergi dengan berbagai pihak, membuat gerakan mereka semakin besar. Saat peluncuran gerakan sedekah, Kafilah Sedekah, Januari 2014, terkumpul Rp.14 Juta. Uang tersebut untuk membiayai perjalanan dakwah. Salah satunya penyediaan makan soto gratis 1000 mangkok saat peluncuran Teras Dakwah.

Komunitas ini juga ingin mendobrak sekat di antara Organisasi Massa (Ormas) Islam. Hal ini terbukti saat peluncuran komunitas ini, semua Ormas diundang.

“Biasanya, kalau sudah pakai “baju” Ormas-nya, terus pada nggak mau ngaji di tempat lain. Kami ingin mendobrak itu,”ucap Kang Puji.*



Rep: Rias Andriati
Editor: Cholis Akbar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar