Minggu, 13 Oktober 2013

kaos tadabbur quran - distro muslim poobiz wear



Untuk Pemesanan distro muslim  silahkan SMS/WA ORDER ke 0888-060-507-82. BBM= 32FAF7E8 Format pemesanan Ketik NAMA LENGKAP - ALAMAT LENGKAP - NAMA PRODUK - UKURAN Kirim ke Nomor diatas. Thanks You. www.POOBIZ.CO




Allah Subhanahu Ta’ala mengajak hamba-hamba-Nya untuk merenungkan (tadabbur) terhadap ayat-ayat-Nya. Maksud tadabbur adalah untuk mendapatkan hikmah, keberkahan dan pelajaran dari firman-firman-Nya.
Allah menyebutkan di dalam Al-Quran :
كِتَـٰبٌ أَنزَلۡنَـٰهُ إِلَيۡكَ مُبَـٰرَكٌ۬ لِّيَدَّبَّرُوٓاْ ءَايَـٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَـٰبِ
Artinya : “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya orang-orang yang mempunyai fikiran mendapat pelajaran.” (QS Shaad [38] : 29).
Namun banyak manusia yang lalai terhadap tadabbur Al-Quran, lupa memperhatikan ayat-ayat-Nya. Sebagaimana Allah sebutkan di dalam ayat :
أَفَلَمۡ يَدَّبَّرُواْ ٱلۡقَوۡلَ أَمۡ جَآءَهُم مَّا لَمۡ يَأۡتِ ءَابَآءَهُمُ ٱلۡأَوَّلِينَ
Artinya : “Maka apakah mereka tidak memperhatikan perkataan (Kami), atau apakah telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang kepada nenek moyang mereka dahulu?” (QS Al-Mu’minun [23] : 68).
Pada ayat lain Allah mewajibkan tadabbur Al-Quran berdasarkan firman Allah dalam surat an-Nisa ayat 82 dan surat Muhammad ayat 24.
أَفَلاَ يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللهِ لَوَجَدثوْا فِيْهِ اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا
Artinya : “Apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an? Kalau kiranya al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah,tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS An-Nisa [4] : 82).

أَفَلاَ يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلىَ قُلُوْبٍ أَقْفَالُهَا

Artinya : “Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (QS Muhammad [47] : 24).
Uraian di atas menunjukan betapa pentingnya tadabbur Al-Quran, mengetahui kandungan isi Al-Quran. Demikian juga akal juga menunjukan hal tersebut. 
Ini merupakan konsekwensi dari dijadikannya manusia sebagai khalifah di atas permukaan bumi ini. Sebagaimana tercantum  di dalam firman-Nya :
وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَـٰٓٮِٕكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ۬ فِى ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةً۬‌ۖ
Artinya : “dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan sorang khalifah di muka  bumi.” (QS Al-Baqarah [2] : 30).
Sebagai konsekwensinya, Allah pun menjelaskan kepada manusia jalan (manhaj) yang jelas sebagai pedoman dalam menunaikan tugas kekhalifahan tersebut dengan benar sesuai kehendak Allah.  Hal ini terlaksana dengan diturunkannya wahyu kepada para nabi-Nya sepanjang zaman. 
Ketika tugas kekhalifahan beralih kepada umat terakhir ini dan menurunkan kitab terakhir yang tidak ada lagi kitab setelahnya, yakni Al-Quran. Maka secara otomatis kitab tersebut mencakup pedoman dalam merealisasikan kekhalifahan itu. 
Agar umat mengenali rincian-rincian manhaj tersebut, maka ayat-ayat dalam kitab Al-Quran itu harus ditadabburi.  Tadabbur dalam arti merenungkan makna-maknanya, merealisasikan pemikiran, prinsip-prinsip dan berbagai konsekwensi yang muncul.  Sehingga dapat mengamalkan Al-Quran dengan ittiba’ (mengikuti) sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar